Rabu, 29 Juni 2011

Merapi Eruption Journey 2011

Minggu 26 Juni 2011, tepat jam 00.00 saya bersama beberapa teman dari Asrama Merapi Singgalang dan Asrama Bundo Knaduang berangkat menuju Daerah Wisata Kali Urang untuk berkemah, kebetulan besok kami juga akan mengikuti acara Merapi Eruption Journey yang diadakan oleh kemenbudpar DIY di daerah itu.

Udara begitu dingin karena lokasi Kali Urang yang terletak di kaki Gunung Merapi. Mau tak mau kami harus bertahan di dinginnya malam demi menjalankan rencana kami itu. Perjalanan hampir satu jam telah dilewati akhirnya kami tiba di Gardu Pandang. Memang tempat itu bukan arena untuk berkemah, tapi apa boleh buat, kami tidak punya pilihan lain. Hari sudah terlalu malam, udara yang sangat dingin, dan tubuh yang sudah mulai lelah memaksa kami untuk berkemah di sana. Lagi pula tempatnya juga bagus, cocok untuk kami mendirikan tenda.

Setelah tenda didirikan kami pun membuka bekal yang kami bawa, dalam waktu singkat beberapa bungkus mie instan, coklat, biskuit telah lenyap kami makan. Suasana malam itu begitu gembira, tidak terasa beberapa jam telah berlalu hingga menjelang subuh, dan kami pun segera tidur. Kami harus menyiapkan tenaga untuk melanjutkan perjuangan dalam acara jelajah merapi esok.
Belum jam 6 pagi, ternyata hari sudah terang, matahari sudah tinggi, dan suasana telah ramai. terlihat beberapa bus pariwisata dan juga mobil pribadi sudah berada di lapangan parkir. Ternyata sudah banyak pengunjung yang datang.

Tidak lama kemudian, kami harus segera menuju garis start, teman-teman yang lainnya juga sudah menunggu disana. Kami mulai berjalan pukul setengah 9 pagi menuju medan yang belum pernah kami lewati. Saya berharap ini akan menjadi sangat menarik. Benar saja, berbagai medan telah menunggu untuk kami lewati, mulai dari perkampungan, kebun-kebun, hutan, dan juga sisa-sisa erupsi merapi yang terlihat seperti padang pasir yang luas. Ternyata 6 bulan berlalu belum bisa menghilangkan jejak keganasan awan panas yang begitu dahsyat.

Perjalanan yang begitu melelahkan akhirnya berakhir ketika kami memasuki garis finish, disana telah bersiap-siap para seniman Jatilan untuk menyuguhkan tontonan menarik kepada kami. Lelah pun terobati dengan pertunjukan yang menarik dan pemandangan yang menekjubkan yang kami lewati sepanjang jalan. Pertunjukan tradisional yang begitu menarik saya pikir, meskipun saya tidak mengerti lagu pengiring yang didendangkan karena menggunakan bahasa jawa.

Hingga sampailah pada acara yang kami tunggu, yaitu pembagian doorprize, kami berharap dapat sepeda atau uang tunai yang cukup besar. Alhamdulillah, meski akhirnya hanya dapat kompor gas dan kipas angin kami tetap senang, bisa digunakan untuk asrama.

Kami pun pulang dengan perasaan senang dan sangat puas dengan pengalaman yang baru saja kami dapatkan.

Kamis, 07 Januari 2010

Karung Amal

Beberapa hari ini anak-anak asrama disibukkan dengan game poker di facebook, tidak ketinggalan aku pun ikut-ikutan. Seperti sudah jadi rutinitas, pagi-pagi aku langsungbuka facebook, lihat postingan, dan tentu saja main poker.
Bosan main poker karena kalah terus, aku berusaha untuk mencari hal yang lebih bermanfa'at dari internet ini. Lalu aku teringat, oh ya inbox email aku kan udah numpuk. Coba baca ah, siapa tau ada yang menarik atau bemanfa'at, seperti yang aku katakan pada postingan sebelumnya.
Ternyata benar, sebuah email dari milis SMA ku dulu. Begitu bermakna, seolah-olah mengajukan pertanyaan yang tak bisa ku jawab, sudah berapa persiapan yang ku miliki untuk menghadapi hari akhir. Melalui sebuah kisah, begini kisahnya;

KARUNG

Seorang raja memberi tugas kepada tiga orang menteri untuk mengumpulkan sendiri semua buah buahan yang ada di halaman masing masing satu karung dalam waktu satu hari. Apa yang terjadi pada setiap menteri?

Menteri yang pertama berfikir dan berlaku ikhlas, dia berfikir positif dan melaksanakan tugas tersebut sebaik baiknya. Maka dipilihnyalah buah buahan yang terbaik, ranum dari semua pohon buah buahan yang ada di halaman istana. Hanya yang baik saja yang dia ambilnya artinya yang matang, manis dan enak saja, sementara yang asam dan pahit tidak dimasukkannya kedalam karung.

Menteri yang kedua, merasa mengapa raja menyuruh mereka para menteri mengumpulkan buah-buahan sendiri. Kenapa tidak anak buahnya atau petugas lainnya yang mengerjakanannya, sehingga dia mengerjakannya dengan setengah hati. Dikumpulkannya juga buah-buahan tersebut dengan pemikiran raja tak akan memeriksa apa hasil kerja yang dilakukannya. Dicampurnya saja buah yang baik dengan buah yang busuk.

Sementara menteri yang ketiga merasa bahwa: “Wah raja ini mengada-ada” masak kita yang disuruh mengumpulkan buah buahan; Menteri ini memang tak begitu senang dengan raja dan berfikir tak mungkin rasanya raja akan mengecek isi karung tersebut. Maka yang dikumpulkannya sebagian besar adalah rumput yang mudah mengambilnya, hanya sedikit saja buah buahan pada bagian atasnya.

Pada ke esokan harinya, para menteri itu datang dengan karungnya masing masing menghadap raja. Tanpa diduga oleh para menteri, raja memanggil pengawal istana dan memerintahkan ketiga menteri tersebut di jebloskan ke penjara bersama dengan karung masing masing. Dan diperintahkan juga tidak diberi makan selama tiga bulan. Apa yang akan terjadi????

Coba saja kita ganti karung itu sebagai tabungan amal kita, dan kita akan dimasukkan ke penjara yang berarti kuburan.
Jadi sudah berapakah isi karung amal kita????